Satu Kejadian (Bonus: Selang-Semesta Satu Kejadian)

The Dream (The Bed), Frida Kahlo


Satu Kejadian

Kamar ini gelap, tak ada kasur, selimut kering, aku tak kenal siapa laki-laki di pintu bilik, rambutnya menyentuh bahu, dia takkan sesekali menyentuh tanpa bertanya, asap rokok bertebaran semacam awan, kubiarkan dia duduk di bingkai tingkap, aku bayangkan ini mesti upacara kematian. 

Kamar ini terang, kasur hening, selimut basah, bantal di celah kelangkang dan bau Winston sudah lenyap, dalam jeritan: enggan. alisku mengenal dan ingat laki-laki pengimpit tubuh dan pengunci gelangan tangan ke lantai 15 tahun lepas, aku bayangkan ini mesti upacara kesenggamaan.

Aku benci melihat kepatahan ranting badan hatta pada cermin di hadapan diri. zaman kepolosan yang hangat mencairkan lilin waktu. satu kejadian berlaku: sudah berlaku. aku tak pernah ingin mengaku bahwa aku berkaca kerna tak jelas retaknya dan tak ingin dikhabarkan siapa pemecahnya.

___________________________________________________

Selang-Semesta Satu Kejadian


Laki-laki berambut panjang mempercayai aku sebelum aku mempercayai diri sendiri. Seperti aku telah mengenalinya sebelum ini, semasa bayi ketika masih suci. Dia mencebik dan berkata, tiada siapa boleh memecahkan tubuhmu walau cinta sekalipun. Kau bukan kaca, yang dicermati, yang dijaga, yang tak boleh disentuh, yang rapuh, yang meluka, yang mencakar, yang beku, yang retak apalagi yang pecah, kau perempuan dan hanya perempuan, dan hanya seorang manusia. dan tentulah segalanya.

Bagi mencari makna tenang, kita mengimani sesuatu dikatakan sebagai selang-semesta, yang menghidupkan berjuta kemungkinan dan kejadian serupa dengan pilihan takdir berbeza. tapi aku memilih untuk menulis satu selang-semesta ini, bahwa aku masih sama mendukung tragedi di pundak. cuma kali ini, kali ini aku melupakan semuanya. 

Comments

Popular Posts